Budaya Jampangkulon bukanlah budaya statis, melainkan budaya yang hidup, berkembang, dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Dari tradisi lisan, seni pertunjukan, ritual agraris, hingga tradisi keagamaan, semua menyatu menjadi warna kehidupan masyarakat.
Nama “Jampang” sendiri sudah lama dikenal sebagai sebuah kawasan hutan yang luas. Orang-orang tua dahulu menyebut wilayah ini dengan istilah Tatar Jampang, sebuah sebutan yang tidak hanya merujuk pada batas administratif, melainkan pada ikatan kebersamaan dan identitas masyarakatnya. Adapun kata Kulon menjadi penanda posisi geografis: bagian barat dari Tatar Jampang yang begitu luas. Maka, Jampangkulon tidak hanya sekadar nama, melainkan simbol sebuah wilayah yang memiliki akar budaya, jejak sejarah, dan cita-cita masa depan.
Sejarah panjang Jampangkulon tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik, ekonomi, maupun sosial budaya yang melingkupinya. Pada masa kerajaan, wilayah Pajampangan kerap kali menjadi jalur penting penghubung antara pesisir selatan dengan pedalaman Sunda. Banyak kisah yang tersembunyi di balik hutan-hutan lebat, ladang-ladang subur, dan sungai-sungai yang mengalir deras menuju laut selatan. Dari situlah masyarakat Jampangkulon menata kehidupannya: bercocok tanam, berdagang, hingga menjaga adat dan agama sebagai pegangan hidup.
Namun, Jampangkulon juga menyimpan kisah perjuangan. Pada masa kolonial Belanda, masyarakatnya tidak tinggal diam. Sejumlah tugu perlawanan masih berdiri hingga kini, menjadi saksi betapa rakyat Pajampangan memilih jalan terjal demi mempertahankan tanah kelahirannya. Perlawanan itu bukan hanya bentuk amarah, melainkan wujud cinta tanah air yang dalam. Dari hutan, lembah, dan bukit, semangat rakyat Jampangkulon menggelora, meninggalkan jejak yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah lokal Sukabumi, bahkan Nusantara.
Jampangkulon juga menjadi pusat..... selanjutnya
Hak Cipta © Diarpus Kab. Sukabumi dan/atau Baladaka Surade
