Sejarah Surade - Surah Rah Hadian



S ekitar tahun 1732-1751 Galuh Imbanagara dipimpin oleh seorang Bupati yang gagah, pemberani dan sakti. Beliau Raden Arya Adipati JAGABAYA. Perlu diketahui wilayah Galuh bagian Timur sebagian demi sebagian semakin digerogoti dan dikuasai Mataram, sedangkan bagian Utara sudah diincar dan direbut oleh VOC/Kompeni Belanda.Sehingga saat itu wilayah kekuasaannya semakin mengerucut.

Rd. Jagabaya sering merenung memikirkan keadaan pemerintahannya yang semakin hari semakin terpuruk karena kondisi rakyatnya yang kian melemah sehingga kian terdesak oleh musuh. Beliau merasa kewalahan karena untuk merebut kembali wilayah kekuasaannya dari Mataram dan Belanda sangat tidak mungkin. Sebab kekuatan Galuh semakin berkurang. Rakyatnya nampak lesu dan sering mengalami kelaparan. Prajuritnya nampak lemah karena kelelahan akibat sering berperang. Sedangkan pada saat itu sedang terjadi perang antara Mataram dengan kompeni akibat kompeni selalu ikut campur di wilayah pemerintahan kekuasaan Mataram.

Bahkan yang lebih menyakitkan lagi ketika beliau mendapat berita bahwa Kompeni telah memberhentikan putranya yaitu Rd. Suranangga (Demang Pasirbatang) dan juga memberhentikan orang kepercayaan beliau yang bernama Rd. Surabujangga (Demang Wanasari Kaligangsa-Brebes), tanpa jelas kesalahannya.

Kompeni mengangkat Jonggosuro menggantikan Demang Rd. Surabujangga dan mengangkat Brojonoto (asal Banyumas) menggantikan Demang Rd. Suranangga. Selain itu Kompeni melalui R. Adipati Danu Sumadinata atau yang dikenal dengan sebutan Aom Danu, memberi perintah pada Rd. Jagabaya agar mengerahkan seluruh prajuritnya melawan bala tentara Mataram di sebelah Timur sungai Citanduy yang telah siap menyerang dan menghancurkan kekuasaan Kompeni. Apabila Rd. Jagabaya tidak mengindahkan perintah kompeni maka ia pun diancam akan diberhentikan dari tahtanya sebagai bupati.

Perasaan marah juga sedih bercampur pada satu situasi. Akibat kabar pemberhentian putranya dan orang kepercayaannya dari jabatan secara tiba-tiba dan adanya perintah kompeni untuk memimpin pasukan dalam rangka melawan Mataram yang pada saat itu keadaan prajuritnya sudah sangat lemah dan kecil kemungkinan untuk mampu hidup di medan perang. Tapi dalam keterpurukannya itu, Rd. Jagabaya tidak menyerah begitu saja karena jiwa patriot yang dimilikinya tetap menggelora.

Untuk menjaga hal-hal yang tidak diharapkan, maka Rd. Jagabaya merencanakan mengangkat putranya yang bernama Rd. Suranangga untuk menggantikan dirinya sebagai Bupati Galuh Imbanagara. Dengan mengangkat putranya sebagai bupati diharapkan dapat memulihkan kembali kondisi pemerintahan Galuh serta dapat menjaga dari segala marabahaya yang ditimbulkan akibat terjadinya perang antara Mataram dan kompeni.

Pada saat itu, tiba-tiba datang utusan dari Mataram melalui Rd. Mas Santanu membawa amanat Sultan yang memerintahkan agar Rd. Jagabaya mengirimkan bala tentaranya ke perbatasan untuk mencegat prajurit kompeni yang akan melintas di pinggir sungai Citanduy dari arah Utara. Mataram pun memberikan ancaman bahwa apabila perintahnya tidak diindahkan oleh Rd. Jagabaya maka beliau akan diberhentikan dari jabatan bupatinya serta akan memberhentikan kedua putranya yaitu Rd. Mas Martanagara yang menjadi Demang Pasirluhur dan Rd. Surawiangga yang menjadi Demang Panjalu. Bahkan Sultan tidak segan-segan akan memberi hukumannya (hukum Pancung, Tugel Jangga, Godog, hukum gantung, hukum picis, dan sanksi hukum lainnya yang berlaku saat itu), kepada Rd. Jagabaya apabila beliau tidak bisa memenuhi perintah Sultan Mataram.

Rd. Jagabaya merasa serba salah, karena di satu pihak yaitu kompeni memerintahkan agar mengirimkan prajurit-nya untuk melawan pasukan Mataram, di pihak lain Mataram memerintahkan agar mengirimkan prajuritnya untuk melawan kompeni. Di sisi lain Rd. Jagabaya merasa iba kepada prajuritnya yang sudah merasa kelelahan akibat berperang.

Di tengah-tengah kepanikan serta kebingungannya bagaimana ia harus berupaya atau bertindak, saat itu pula datang utusan dari kompeni yang membawa surat pemberhentian dirinya dari jabatan Bupati Galuh Imbanagara, kemudian Belanda mengangkat R. Adipati Danu Sumadinata sebagai penggantinya. Pemberhentian Rd. Jagabaya dari Bupati Galuh Imbanagara yang kemudian diganti oleh R. Adipati Danu Sumadinata, terjadi sekitar tahun 1751. R. Adipati Danu Sumadinata pernah menjadi tahanan Mataram sebelumnya. Tidak lama kemudian datang pula utusan Mataram yang membawa surat pemberhentian Rd. Jagabaya dari jabatan bupati Galuh Imbanagara dan sebagai penggantinya Mataram mengangkat Brojonoto. Selain itu Mataram memberhentikan pula Rd. Mas Martanagara dari Demang Pasirluhur dan Rd. Surawiangga dari Demang Panjalu.

Rd. Jagabaya merasa terhina bukan kepalang atas pemberhentian dirinya dari jabatan bupati serta pemberhentian putra-putranya dari demang. Hatinya luluh lebur seperti terpukul, amarahnya semakin memuncak, keinginannya meronta-ronta untuk memberontak melawan Mataram dan mengusir Kompeni. Tapi apa daya, kakinya terasa seperti terpaku pada tanah, darahnya terasa panas, giginya terasa gemetar, tubuhnya kaku seperti membeku. Dia tidak bisa berbuat apa-apa karena jika harus melawan Mataram dan mengusir kompeni berarti dia harus mengorbankan prajurit dan rakyatnya. Dia tidak tega melihat rakyatnya semakin menderita.

Rd. Jagabaya beserta putra-putrinya mempunyai jiwa patriot, sehingga mereka tidak langsung mengadakan perlawanan dengan mengorbankan rakyatnya tapi mereka membuat taktik dan menyusun strategi dalam menghadapi Mataram maupun Kompeni. Kemudian Rd. Jagabaya bersama putra-putrinya yaitu Rd. Surawiangga, Nyi Rd. Mas Raksanagara, Rd. Mas Martanagara, Rd. Suranangga dan Nyi Rd. Dewi Suramanggala (Suria Inggala) dan tak ketinggalan dengan Rd. Surabujangga (orang kepercayaan Rd. Jagabaya), mengadakan musyawarah untuk mencari jalan keluar yang terbaik. Akhirnya mereka mengambil kesepakatan untuk mengungsi atau meloloskan diri dari ancaman kompeni maupun Mataram, untuk menyusun strategi dan kekuatan kembali. Rd. Jagabaya memberikan kepercayaan yang penuh kepada Rd. Surabujangga untuk menjaga (melindungi) dan membawa putra-putrinya dalam pengungsian. Rd. Jagabaya memberikan kepercayaan yang penuh kepada Rd. Surabujangga, karena Rd. Surabujangga adalah orang yang selalu patuh dan hormat padanya sehingga keluarga Rd. Jagabaya sudah menganggap saudara kepada Rd. Surabujangga. Kemudian mereka mengungsikan Rd. Jagabaya ke kampung Pamungguan (dekat Kp. Paniisan-Bolenglang, tidak jauh dari Kp. Jambansari–Ciamis).

Selanjutnya bisa anda akses melalui aplikasi apk
ooOoo

Di salin dari Buku "Menelusuri Jejak Sejarah Surade"
Hak Cipta © Baladaka Surade

Demikian Catatan Kecil tentang :
Terima kasih atas kunjungannya dan "Selamat Berkreasi Semoga Sukses"

Selanjutnya 
« Prev Post
 Sebelumnya
Next Post »

Catatan Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar / saran-sarang yang membangun di sini !

Sejarah Surade - Surah Rah Hadian