Nama “Jampangkulon” diyakini lahir dari kisah panjang perjalanan manusia dan tanah Pajampangan. Menurut cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut para sesepuh, dahulu wilayah ini dikenal dengan nama Cicurug Pamerangan.
Cicurug berarti sebuah cekungan atau tempat air mengalir dan berkumpul, sedangkan Pamerangan memiliki makna “arena atau tempat perlawanan.” Nama ini dipercaya lahir dari peristiwa-peristiwa penting di masa lampau, ketika kawasan ini menjadi pusat persinggahan para pejuang dan arena perjuangan melawan penindasan.
Cicurug Pamerangan adalah tanah subur yang dikelilingi hutan lebat, sungai yang mengalir jernih, dan sawah yang membentang luas. Di sanalah masyarakat hidup sederhana namun penuh semangat, menjaga tanah warisan leluhur sambil mempertahankan kehormatan dari ancaman luar. Dari istilah itu, lambat laun berkembang penyebutan Jampang, yang berarti wilayah hulu atau pedalaman. Sementara itu, tambahan kata “Kulon” menunjuk pada letak geografisnya yang berada di bagian barat dari Pajampangan. Maka, jadilah nama Jampangkulon, yang hingga kini melekat sebagai identitas kebanggaan masyarakatnya.
Identitas Jampangkulon tidak hanya ditentukan oleh namanya, tetapi juga oleh ikatan budaya Sunda yang kental. Tradisi gotong royong (sabilulungan), tata krama, hingga kesetiaan kepada tanah leluhur menjadi fondasi yang menumbuhkan rasa kebersamaan. Di balik kesederhanaan hidup masyarakatnya, Jampangkulon menyimpan khazanah nilai yang terus diwariskan lintas generasi.
Dalam menelusuri jejak sejarah Pajampangan, tidak bisa dilepaskan dari kisah Jampang Manggung,.......
Hak Cipta © Diarpus Kab. Sukabumi dan/atau Baladaka Surade